Berlawanan dengan penghayatan hidup tak bermakna, orang yang telah terpenuhi kebermaknaan dalam hidupnya akan menjalani kehidupannya sehari-hari dengan penuh semangat dan gairah hidup serta jauh dari perasaan hampa. . Mereka memaknai kehidupannya dalam tujuan-tujuan yang harus dicapai sehingga menyebabkan kegiatannya menjadi lebih terarah.
Menurut Frankl (1997), ada tiga pilar filosofis yang penting bagi manusia dalam proses pemenuhan kebermaknaan hidup yaitu: kebebasan berkehendak (freedom of will), kehendak hidup bermakna (will to meaning), dan makna hidup (meaning of life).

1. Kebebasan berkehendak, maksudnya adalah bahwa manusia itu memiliki kebebesan untuk menentukan sikap (freedom to take stand), ketika berhadapan dengan berbagai situasi. Kebebasan ini bukan berarti bahwa kita mampu membebaskan diri dari kondisi-kondisi biologis, psikologis, atau sosiologis, tetapi manusia mempunyai kebebasan untuk menentukan sikapnya terhadap sesuatu hal. Kebebasan ini juga membuat manusia mampu mengambil jarak bagi dirinya senidiri (self detachment) dan membuat manusia mamapu menentukan apa yang diinginkan untuk kehidupannya (the self determining being). Kebebasan ini menuntut manusia untuk mampu mengambil tanggung jawab atas dirinya sendiri sehingga mencegahnya dari kebebasan yang bersifat kesewenangan.

2. Kehendak hidup bermakna (will to meaning) menurut Frankl (1977), merupakan motivasi utama manusia. Hasrat inilah yang memotivasi setiap orang untuk bekerja, berkarya dan melakukan kegiatan-kegiatan penting lainnya. Manusia selalu mencari makna-makna dalam setiap kegiatannya sehingga kehendak untuk hidup bermakna ini selalu mendorong setiap manusia untuk memenuhi makna tersebut. Hasrat tersebut akan membuat manusia merasa menjadi seseorang yang berharga, mempunyai arti dalam hidupnya. Anda pasti pernah merasakan ketika anda mempertanyakan apa yang telah anda capai dalam karir anda?. Apakah anda merasa bahagia, merasa puas, merasa telah mencapai sesuatu yang berharga di dalam hidup anda?.

3. Makna hidup (meaning of life). Makna hidup ini akan menjadikan manusia mampu memenuhi kebermaknaan hidupnya, tanpa makna hidup manusia akan kehilangan arti dalam kehidupannya sehari-hari. Dalam makna hidup ini terkandung juga tujuan hidup manusia sehingga antara keduanya tidak bisa dibedakan. Makna hidup sendiri mempunyai beberapa karakteristik, yaitu makna hidup bersifat unik dan personal. Artinya, apa yang dianggap penting bagi orang lain, belum tentu akan dianggap penting bagi kita. Makna hidup juga mempunyai ciri spesifik dan konkret, artinya makna dapat ditemukan ketika kita melihat matahari terbit/terbenam, melihat senyuman bayi mungil dan bisa pula timbul ketika memberikan sedekah kepada peminta-minta.
Makna hidup ini akan memberikan pedoman dan arah terhadap kegiatan-kegiatan yang anda lakukan sehingga makna hidup seakan-akan menantang (challenging) dan makna hidup mengundang (inviting) seseorang untuk memenuhinya. Makna hidup ini harus dihayati dan anda cari sehingga anda senidiri dapat memenuhinya dalam kehidupan anda. Dan janganlah anda terjebak dalam pedoman bahwa makna hidup hanya dapat diperoleh melalui pengalaman-pengalaman luar biasa dan hal ini merupakan pedoman yang kurang tepat. Anda bisa memperoleh makna hidup dari hal-hal yang biasa, sepele, yang mungkin anda lupakan atau tidak anda perhatikan. Misalnya, ketika anda memberikan uang recehan kepada peminta-minta buat, anda merasakan perasaan haru, anda merasa telah memberikan sesuatu yang berharga bagi peminta-minta tersebut.

Berkaitan dengan penjelasan tersebut, maka menurut Frankl (1977), manusia dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu:
a. kelompok yang masih mencari dan belum menemukan makna hidup;
b. mereka yang telah menemukan makna hidupnya melalui sistem nilai pribadi masing-masing

Sumber Tulisan:
Triantoro Safaria dan Kunjana Rahardi (2004), Menjadi Pribadi Berprestasi.

Pustaka: Frankl, Victor.1977. Man’s Search for Meaning: an Introduction to Logotherapy. London: Hodder & Stoughton.