GAYA PRIBADI

Ada berbagai cara untuk menilai gaya pribadi tetapi cara yang sangat efektif adalah Myers-Briggs Type Inventory (MBTI). Ujian singkat ini, yang didasarkan kepada pandangan hidup/teori Carfl Jung, dapat dilaksanakan sendiri dan merupakan cara yang baik sekali untuk membuka pertemuan pengembangan tim. Tujuan MBTI adalah untuk menilai cara orang memperoleh dan memproses informasi, yang merupakan aspek yang kritis dalam berfungsinya tim. Carl Jung, menetapkan pola dasar gaya pribadi yang didasarkan kepada interaksi empat pasang tindakan yang istimewa.
Keempat pasang itu, adalah:
1. Extrovert versus Introvert (mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan versus cenderung memperhatikan diri atau pikiran sendiri)
2. Sensing versus Intuitive (pemahaman berdasarkan panca indera yang menstimulir perasaan versus berdasarkan pengetahuan yang diperoleh tanpa menggunakan akal sadar)
3. Thinking versus Feeling (mempergunakan pikiran versus mempergunakan perasaan)
4. Perceiving versus Judging (merasa versus menilai)

Walaupun tidak akan bermanfaat berusaha menjadikan setiap tim multibudaya sebagai sidang terapi kelompok, namun para anggota tim dan pemimpin tim harus mempunyai gagasan bagaimana membedakan faktor-faktor budaya dari kepribadian dalam berfungsinya tim. MBTI memberikan satu cara yang cukup mudah dan tidak menakutkan.
Orang mengakses informasi melalui sensing (S) atau intuiting (N) informasi dari lingkungan mereka. Panca indera cenderung menangkap informasi yang lebih terinci dengan mempergunakan mata, telinga, hidung dan sentuhan untuk menimbulkan kontak dengan lingkungan. Intuitive (N) merupakan orang gambar-besar, yang mencari berbagai pola, sistem, bentuk di dunia sekeliling mereka. Akibatnya, gaya pribadi S dan N dapat membaca informasi yang sama atau memperoleh pengalaman yang sama tetapi merasakan hal yang berbeda. Ini dapat sangat mempengaruhi berfungsinya sebuah tim. S mungkin mencari data empiris yang menjadi dasar keputusan, sedangkan N mungkin melihat ke arah strategis.
Segera setelah orang memperoleh informasi, mereka memprosesnya dengan cara unik. Orang berfikir (T = think) cenderung menganalisis informasi yang sudah mereka peroleh untuk menentukan apa yang harus dilakukan dalam keadaan tertentu. Sebaliknya, orang yang menggunakan perasaan (F = feel) akan cenderung menggolongkan informasi berdasarkan serangkaian kepercayaan dan membaginya sebagai hal baik atau buruk, benar atau salah. Kepercayaan ini mungkin didasarkan kepada pengalaman, pendidikan, agama atau sistem filosofi. Tetapi, Anda dapat melihat bahwa kriteria yang dipergunakan dalam mengambil keputusan dengan demikian akan berbeda untuk T dan F. Sifat-sifat ini mempunyai implikasi yang luas dalam hubungan antar perorangan dan berfungsinya empat pola dasar yang pokok: NT, NF, ST, dan SF. Setiap tipe ini merasakan dunia secara berbeda, bukan karena perbedaan budaya tetapi karena perbedaan dalam gaya pribadi yang berhubungan dengan kepribadian.
Penggunaan pola dasar Carl Jung terhadap berfungsinya tim menyatakan bahwa keempat gaya pribadi yang pokok harus terdapat pada setiap tim untuk memperoleh usaha yang seimbang. Tim yang hanya dengan orang-orang yang Intuitive (tipe I) akan cemerlang dalam menentukan arah strategis ettapi mungkin tidak mempunyai gagasan apa pun mengenai cara untuk dapat sampai pada tujuan. Demikian juga, panca indera mungkin mempunyai semua data tetapi mungkin tidak mengetahui atau memperdulikan ke mana ia menuju. Pemikir (tipe T) mungkin menganalisis segala sesuatunya tetapi mungkin tidak menangkap berbagai aspek moral dalam pengambilan keputusan. Bagi perasa (tipe F) mungkin jelas apa yang benar dan salah tetapi mungkin tidak memahami bagaimana menyampaikan hasil-hasil keputusan dengan cara yang dapat dimengerti dan diikuti oleh T (tipe T).
Kerangkapan extrovert/introvert menggambarkan apakah orang melihat kepada gagasan (I) atau orang lain (E) untuk memeriksa kesan mereka mengenai dunia. Orang introvert berbaris menurut penabuh tambur mereka sendiri dan menikmati sendiri waktu mereka untuk merenung sedangkan orang yang extrovert mengembangkan sinergi melalui orang dan lebih suka bekerja dalam tim. Orang yang extrovert lebih bersemangat dengan orang lain; orang yang introvert kadang-kadang dibuat lelah oleh orang lain.
Golongan perceiving/judging (P/J) dapat menimbulkan pengaruh yang besar pada berfungsinya tim karena P lebih suka memikirkan keputusan secara mendalam sedangkan J berorientasi kepada tindakan. J dan P terburu-buru mengambil kesimpulan, kadang-kadang ke arah yang keliru, dan P tanpa J suka menangguh-nangguhkan penambilan keputusan. Perceiver (P) terbuka terhadap segala kemungkinan. Mereka ragu-ragu untuk mengambil keputusan karena mereka ingin memperoleh data yang lebih banyak untuk menjamin bahwa semua segi sudah tercakup. Sebaliknya, judgers (tipe J), ingin mengambil keputusan dan beralih ke topik lain dalam agenda.
Pengamatan singkat mengenai gaya pribadi menurut Myers-Briggs ini memang belum sempurna dan memadai. Tujuan tulisan ini bukanlah untuk membahas secara luas, tetapi hanya untuk memberikan gambaran bagaimana perbedaan pribadi mempengaruhi operasi tim multibudaya.(Infoemasi lengkap baca profile Myers-Briggs: Please Understand Me, Character and Temperament Types oleh Keirsey dan Bate, 1984).

BUDAYA FUNGSI
Ada korelasi antara MBTI dengan budaya fungsi tertentu karena kebutuhan terhadap budaya fungsi cenderung menarik orang yang mempunyai gaya pribadi tertentu. Sebagai contoh, berbagai CEO cenderung merupakan tipe ISTJ, ESTJ, INTJ atau ENTJ karena adanya kebutuhan untuk menganalisis masalah, mengambil keputusan, dan berorientasi kepada tindakan. Sebaliknya, kebanyakan wiraswasta yang sangat kreatif adalah tipe INFP yang menghargai keterbukaan dan tidak mengandalkan nasihat dan anjuran orang lain. Ahli penelitian dan pengembangan seringkali adalah tipe ISTP, yang terlibat dalam rincian dan menghargai penyelidikan yang panjang dan terbuka. Orang penjualan seringkali tipe ESTJ atau ESFJ yang mempedulikan pikiran orang lain dan mementingkan penjualan untuk memperoleh penerimaan. Sebaliknya, orang pemasaran, biasanya tipe NP yang senang melihat strategi yang lebih luas dalam menetapkan sasaran pemasaran dan proses yang kreatif dalam memeriksa pesan yang benar.
Disamping gaya pribadi, budaya fungsi juga mempunyai norma-norma mereka sendiri untuk perilaku, nilai-nilai, kerangka analisis, dan tes untuk menentukan arti penting sesuatu. Pemasaran, keuangan, manufacturing, perekayasaan dan perencanaan akan memberikan tekanan kepada bermacam-macam aspek keputusan kebijaksanaan yang dibawa kepada tim lintas fungsi. Ini merupakan satu sebab mengapa tim lintas fungsi sekarang ini menjadi sumber informasi yang kaya dan pengambilan keputusan yang kreatif—dan konflik.
Pentingnya tim lintas fungsi telah menjadi landasan bagi TQM (total quality management) dan kualitas yang difokuskan kepada pelanggan (consumer focus). Karena mereka berusaha menjamin agar pelanggan dilayani dengan cara yang benar-benar konsisten menanggapi kebutuhan mereka, kebanyakan perusahaan telah mencapai berbagai perbedaan yang kuat dalam budaya fungsi: perspektif, nilai-nilai, dan prioritas mereka. Manajemen lintas fungsi global dapat mengembangkan pengalaman awal mereka mengenai TQM dengan memeriksa bagaimana gerakan ini telah mengkoordinasikan berbagai perspektif yang banyak itu. Pemimpin dapat memperoleh banyak sekali sinergi dari TQM (dan faktor globalisasi) jika pemimpin dapat mempertimbangkan mereka sebagai kekuatan yang saling mengisi dalam organisasi anda.

Sumber: Stephen H.R., Panduan bagi Manager Menuju Globalisasi, 2001.