Apa tujuan anda ke kampus…????
Semua orang sudah tahu, tujuan ke kampus adalah untuk belajar (to learn). Tapi dalam prakteknya, belum tentu tujuan itu yang benar-benar kita realisasikan secara optimal. Bisa jadi, dari 100% jam belajar kita, hanya sedikit yang kita realisasikan untuk benar-benar belajar, dan sisanya untuk bercanda gurau (to joke). Memang, kita seringkali tidak bisa menghindari hal-hal yang bersifat demikian karena menimbulkan kesenangan dan tidak jarang hal ini memicu perselisihan dan pertengkaran kalau sudah melampaui batas-batas normal.

Oleh karenanya, pertanyaan seputar diri (tentang diri, terhadap diri, saat sendirian), seperti apakah kita ke kampus, apakah untuk belajar atau untuk bercanda, menjadi penting sebagai sebuah cermin. Walau kita sudah tahu jawabannya, tetapi yang seringkali kita lupakan adalah memunculkannya. Kenapa ini menjadi penting? Kalau melihat kajian psikologi, ternyata mempertanyakan diri sendiri berfungsi menyuburkan stamina spiritual.

Yang termasuk stamina spiritual di sini adalah pencerahan dan vitalitas. Dengan menyadari bahwa tujuan kita ke kampus untuk belajar, berkarya, berkreasi, dan berkontribusi, maka kita akan terbentengi dari keterhanyutan dalam candaan . Dengan bertanya apa makna hidup kita, akan membuat kita mencari-cari makna yang lebih esensial di dalam pembelajaran, kesulitan, hambatan, atau pun tantangan yang harus atau pun sedang dihadapi. Proses tersebut akan memfasilitasi munculnya kesadaran.

Jika melihat nasehat Tao, ternyata kesadaran itulah yang menjadi sumber kekuatan jiwa. Kesadaran di sini bisa kita maknai sebagai keterhubungan (connectedness) antara kita dengan apa yang kita perjuangkan / usahakan / kerjakan. Keterhubungan ini, tidak hanya berlaku untuk pembelajaran, tapi juga dengan orang lain (Dekan,Dosen, Teman). Sebagai ilustrasi, jika belajar tanpa hati dan motivasi, maka hasilnya dipastikan pas-pasan bahkan buruk.

Perampas kesadaran…!!!
Meski pertanyaan-pertanyaan yang menggugah kesadaran itu nampak sepele, namun seperti yang kita alami, kemunculannya tidak secara otomatis membuat kita benar-benar sadar. Kenapa? Tentu banyak sebabnya. Hanya, jika melihat berbagai rujukan, rupanya ada beberapa hal yang bisa kita sebut sebagai perenggut kesadaran mental.

Sebagian dari sekian perenggut itu adalah amarah (lengkapnya nafsu amarah) yang gagal kita kendalikan. Nafsu ini adalah dorongan batin yang mendikte kita untuk melakukan sesuatu yang ditentang oleh suara hati nurani. Pemicunya adalah egoisme kepentingan / kebenaran diri yang kita pertahankan mati-matian.

Semakin sering kita menggunakan kebenaran sendiri sebagai pemandu sikap dan perilaku, mungkin akan semakin kita sering marah. Supaya nafsu ini bisa kita tundukkan, menurut pengalaman jutaan manusia, tidak ada cara lain kecuali dengan melatih diri melihat kebenaran universal yang bisa di temukan dalam hati nurani. Jika hati nurani kalah suara, cobalah untuk melihat echo nurani dari sikap lingkungan terhadap diri kita. Sebab kita suka memutlakkan kebenaran diri dan melupakan bahwa kita manusia yang punya keterbatasan.

Ada sebab lain yang diungkap Alber Bandura (How people do bad thing: 1991). Menurutnya, orang bisa melakukan hal-hal yang merugikan dirinya dan orang lain karena sistem self-regulatory di dalam dirinya sedang off sehingga gagal membedakan. Yang membuatnya off adalah usaha kita untuk merasionalisasi tindakan supaya mendapatkan pembenar yang rasional, bukan mengoreksi / memperbaiki. Misalnya kita berkesimpulan, candaan yang kita lakukan itu cukup beralasan dengan sekian pembenar yang sudah kita siapkan.

Ada lagi yang oleh nasehatnya Tao disebut sebagai penggelap batin, yaitu insecurity (rasa tidak aman) dan egocentricity of selfisness (egoisme). Munculnya rasa tidak aman dalam jiwa disebabkan karena kita tidak memiliki pondasi nilai-nilai yang membuat jiwa kita aman. Jika rasa itu terus menggunung, maka yang muncul adalah usaha-usaha untuk mementingkan diri sendiri atau penonjolan diri secara berlebihan. Akibatnya, kita gampang menyerang orang karena merasa ada yang mengancam kepentingan diri atau mudah melawan untuk memberi makan rasa tidak aman yang lapar.

Bentuknya antara lain: kita memaksakan proses atau keadaan agar harus sesuai dengan keinginan egois kita, memaksa diri untuk harus terkesan sebagai orang yang cerdas dengan mematahkan argumen orang lain karena kita takut dibilang bodoh, kerakusan, mengatur / menguasai orang lain secara tidak sehat, melawan hanya untuk melawan dan lain-lain

Proses Pembelajaran
Kembali pada pokok bahasan mengenai bagaimana supaya kita terhindar dari yang merugikan atau kalau bisa malah dapat memfasilitas dinamika di kampus sebagai proses menuju kematangan spiritual, maka tentu ini butuh proses pembelajaran. Tak mungkin semuanya bisa diraih langsung atau membiarkan. Beberapa proses pembelajaran yang dibutuhkan itu antara lain:

Pertama, memunculkan kesadaran bahwa kita punya pilihan. Situasi atau orang yang menawarkan candaan/guaruan tak ada yang mengharuskan dibalas cara candaan/gurauan dan sebaliknya. Reaksi itu pilihan kita. Sayangnya, terkadang kita tidak menyadari bahwa kita memiliki pilihan untuk YA dan TIDAK. Kita terhanyut dalam keharusan bereaksi. Karena itu, orang yang sedang berpuasa diharuskan memilih kata TIDAK pada tawaran candaan yang mengurangi pahala puasanya. sebab salah satu inti puasa adalah belajar mengontrol pilihan.

Kedua, memaksa diri untuk belajar menentukan keputusan yang jelas pada hal-hal yang membutuhkannya. Terkadang kita tak mampu mengambil keputusan yang jelas karena merasa tidak kuasa, “The I Can Not” (misalnya, saya tak tahan, memang sudah begini watak saya, dst) atau karena pilihan dan alasan kita tidak tegas, “The Yes-but” (saya tahu candaan ini merugikan, tapi…., dan berbagai “tapi” yang lain).

Mestinya, untuk pembelajaran, kita perlu memaksa diri harus tegas dengan mengurangi sejumlah persyaratan dan menambah alasan. Misalnya, kita tidak mau meladeni candaan pada saat proses belajar.

Ketiga, memaksa diri membedakan mana yang perlu didiamkan dan mana yang tidak bisa. Untuk godaan orang lain yang sifatnya “menguji”, entah menguji keimanan, keteguhan atau apa saja, yang lebih baik adalah mendiamkan. Misalnya kita sadang giat-giatnya merealisasikan visi atau tujuan, tapi bisik-bisik orang sekitar tidak mengenakkan. Kalau kita memikirkan yang demikian, maka energi dan fokus kita menjadi tidak kuat atau bocor.

Banyak yang bertanya-tanya, saya sudah berusaha baik, tapi si dia-nya itu yang tetap tertawa-taw dan terus mengajak bercanda pada saat belajar . Apa yang harus saya lakukan? Dalam kondisi begini, kita harus lari berpegang pada keasadaran yang dijelaskan diatas & prinsip lain: sejauh kita memperbaiki diri, maka dunia ini akan mendatangkan manfaat yang baik pula untuk diri kita Inilah cara yang “sopan” dari Tuhan. Semoga bermanfaat.